Sejarah Hidup Imam Masjidil Haram Non Arab Pertama dari Indonesia: Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi

Meneropong sejarah Imam Masjid Al-Haram non Arab pertama Dari Indonesia

68Untitled-1249

Padangtime.com

Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi adalah tokoh dari suku Minang kabau yang sangat tekun dalam mempelajari agama. Seorang ulama besar yang berasal dari Sumatera Barat, Indonesia. Dia adalah orang non Arab pertama yang menjadi Imam di Masjid Al-Haram, Mekkah. Di Mekkah ia menjadi seorang imam sekaligus menjadi khatib, Mufti mazhab Syafi’i, dan salah satu guru yang dihormati di Mekkah. Dia memiliki peranan yang cukup penting di Mekkah Al-Mukarramah sekaligus menjadi guru para ulama Indonesia.

Ahmad Khatib lahir dari pasangan Abdul Latif dan Limbak Urai di Koto Tuo, IV Angkek Candunang, Sumatera Barat di masa penjajahan Belanda pada hari Senin 6 Dzulhijjah 1267 H. Ayah Ahmad adalah tokoh yang berpengaruh di masa itu, ia adalah orang yang terhormat dan disegani, baik dari kalangan masyarakat, ataupun pemerintahan Belanda. Kakek Ahmad, Engku Abdul Rahman juga tokoh yang sangat berpengaruh pada masa itu, ia adalah teman dekat gubernur Belanda Michaels, dan sangat berjasa pada pemerintahan Belanda. Engku Abdul Rahman juga memiliki seorang putra lagi yang bernama Sultan Muhammad Salim, yang tak lain adalah ayah dari H. Agus Salim. Sedangkan ibunda Ahmad bernama Limbak Urai. Limbak Urai adalah perempuan berketurunan bangsawan berdarah biru dan merupakan salah seorang cendekiawan cerdas pada masa itu. Menilik dari silsilah keluarganya, Ahmad bukanlah keturunan dari sembarang orang. Di dalam dirinya mengalir darah para pejuang agama, cendekiawan, dan bangsawan.

Menurut berbagai sumber, sejak kecilnya, Ahmad kecil sempat mengenyam pendidikan formal, yaitu pendidikan dasar dan kemudian berlanjut ke Sekolah Raja atau Kweek School, di Bukittinggi yang ia tamatkan tahun 1871 M. Disamping mengenyam pendidikan formal, ia juga belajar ilmu mabadi’ (dasar-dasar) ilmu agama secara langsung kepada ayahnya, Syaikh Abdul Latif. Dan dari ayahnya pula, Ahmad kecil menghafal Al-Quran dan berhasil menghafalkan beberapa juz.

Pada tahun 1287 H, Ahmad kecil diajak ayahnya untuk melakukan perjalanan ke tanah suci Mekkah dalam rangka menunaikan ibadah haji. Setelah rangkaian ritual haji selesai dilaksanakan, Abdul Latif kembali ke Sumatera Barat, sementara Ahmad tetap tinggal di Mekkah untuk menyelesaikan hafalan Al-Qurannya dan menuntut ilmu dari para ulama-ulama Mekkah, terutama yang mengajar di Masjid Al-Haram. Disana dia pernah belajar ke beberapa guru, diantaranya syaikh Umar Syatta, syaikh Said Ahmad Zaini Dahlan, Said Bakri Syatta dan lain-lain. Di Mekkah, Ahmad tidak hanya mempelajari ilmu Islam saja, ia juga gemar mempelajari ilmu-ilmu keduniaan yang mendukung ilmu agamanya, seperti ilmu pasti untuk menghitung waris. Dan ia juga belajar bahasa Inggris kepada Syaikh Abdul Hadi, ilmuwan Inggris.

Penguasaanya terhadap ilmu-ilmu itu telah sedemikian mendalam dari para gurunya, ia dianggap sudah dapat mengajar. Maka, Ahmad diizinkan untuk membuka halaqah sendiri untuk mengajarkan ilmu-ilmu agama pada tingkat rendah. Sejak itu namanya mulai dikenal orang, dan bertambah hari, murid-muridnya semakin bertambah banyak, sehingga tepat mengajar tidak mencukupi lagi, dan kemudian ia mencari tempat mengajar yang lebih sesuai dari sebelumnya. Berkat budi baik Syaikh Saleh Kurdi, pemilik toko kitab di Babussalam, yang kebetulan berdekatan dengan Masjid Al-Haram, ia dimintakan izin kepada Syarif Aunur Rafiq agar ia diberikan tempat mengajar di Masjid Al-haram. Di luar dugaan, permintaan itu dikabulkan oleh penguasa setempat.

Peristiwa itu sangat mengejutkan, mengingat masyarakat Arab pada saat itu bersikap diskriminatif kepada bangsa lain. Oleh karena itu di awal kariernya mengajar di Masjid Al-Haram, Ahmad banyak menghadapi rintangan. Setelah melalui perjuangan yang cukup gigih, karier dan popularitasnya mengajar di masjid Al-Haram terus meningkat. Jumlah muridnya bertambah banyak, keharuman namanya semakin kuat di kalangan masyarakat. Ada banyak faktor yang menunjang semakin meluansnya nama Ahmad Khatib. Disamping memiliki pemikiran yang cerdas dan cemerlang, luas lagi mendalam, ia juga dikenal sebagai orang yang taat beribadah. Sebelum fajar menyingsing, ia sudah berada di Masjid serta melakukan tawaf keliling Ka’bah. Sebelum waktu Asar tiba, ia pun sudah kembali berada di Masjid. Bermacam-macam ibadah ia lakukan setiap waktu. Semua ini tak ayal menyebabkan ia sangat dikagumi oleh guru-gurunya. Dan kebiasaan Ahmad Khatib ini menjadi tontonan hari-hari Syaikh Saleh Kurdi, karena tokonya berhampiran dengan Masjid Al-haram, sehingga Saikh  Saleh Kurdi banyak menaruh perhatian, kagum dan sangat bersimpati pada Ahmad.

Diantara kebiasaan Syaikh Ahmad Khatib di Mekkah adalah menyeringkan diri mengunjungi toko buku milik Syaikh Muhammad Saleh kurdi untuk membeli kitab-kitab yang dibutuhkan atau sekedar membaca buku saja ketika belum memiliki uang untuk membeli. Disamping karena seringnya Syaikh Ahmad Khatib beribadah, ia juga sering mengunjungi mengunjungi toko buku itu, dan Syaikh Ahmad membuat Syaikh M. Saleh Kurdi menjadi lebih bersimpati kepadanya.

Ketertarikan Syaikh Saleh Kurdi terhadap Syaikh Ahmad Khatib, membuatnya tertarik untuk menjadikannya seorang menantu, bahkan ia berkata langsung untuk meminta Syaikh Ahmad menjadi menantunya. Mendengar ini sembari tidak percaya, Syaikh Ahmad sangat gembira. Di dalam dirinya berkecambuk antara rasa bangga bercampur sangsi. Apakah mungkin seorang Minang Kabau ini dapat memperistri gadis Arab. Sebenarnya Syaikh Ahmad sempat ragu menerima tawaran Syaikh Saleh, karena tidak ada biaya yang mencukupi. Namun itu tidak sedikit pun mengurangi niat besar Syaikh saleh. Bahkan Syaikh Saleh berkata akan membiayai segala sesuatu yang akan diperlukan untuk pernikahan dan biaya hidupnya nanti. Jika karena bukan kepribadian Syaikh Ahmad Khatib yang mulia dan keilmuannya, mungkin hal seperti ini tidak akan pernah terjadi. Dari pernikahannya dengan Khadijah, Syaikh Ahmad Khatib dikaruniai seorang putra, yang mereka namai Abdul Karim. Namun pernikahan Syaikh Ahmad dengan Khadijah tidak berlangsung lama, karena Khadijah menginggal dunia. Kemudian Syaikh Soleh menikahkannya kembali dengan Fatimah, adik kandung Khadijah. Dan dari pernikahannya dengan Fatimah ia dikaruniai tiga orang anak, masing-masing bernama Siti Khadijah, Abdul Malik, dan Abdul Hamid.

Selang beberapa lama, dikarenakan kealiman dan dalamnya ilmu Syaikh Ahmad Khatib, Syarif Aunur Rafiq penguasa Mekkah pada waktu itu mengangkat Syaikh Ahmad Khatib menjadi Imam dan Khatib di Masjid Al-haram. Satu jabatan yang sangat mulia di tanah Hijaz. Kemudian pada usianya yang ke 56 tanggal 9 Jumadil Ula tahun 1334 H, Syaikh Ahmad Khatib meninggal dunia, dan dikuburkan di Mekkah.